Rabu, 27 Desember 2023

MODEL KONSELING BEHAVIORAL DENGAN PENDEKATAN KONSELING SPIRITUAL UNTUK MENGATASI BULLYING PADA SISWA


A.Latar Belakang
 

Sekolah merupakan lembaga formal yang bertujuan melaksanakan semua proses pembelajaran, secara optimal dan bermutu untuk dapat melahirkan siswa yang berkualitas. ,Tidak semua perilaku yang ada dari diri kita berasal dari dalam dan bawaan manusia, sebagian dari perilaku itu merupakan hasil dari suatu proses belajar. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku adalah lingkungan sekolah atau lingkungan sosial. Kenyataannya tidak semua lingkungan sosial memberikan pengaruh positif, adapun pengaruh negatif yang kerap dirasakan oleh individu lainnya. Tindakan kekerasan, mengancam atau mengintimidasi lebih di kenal dengan istilah bullying. “Perilaku Bullying dapat ditemukan baik pada anak laki-laki maupun Perempuan akan tetapi intensitasnya dipengaruhi oleh proses sosialisasi yang mereka terima, bukan karena adanya perbedaan tingkat keberanian dan ukuran fisik”. Bullying merupakan permasalahan yang sering terjadi di lingkungan sosial serta menjadi topik yang sangat hangat diperbincangkan dan sampai menemukan solusi. Keberadaan Bullying dapat sampai mengakibatkan kehilangan nyawa. Maka di butuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah bullying. Perilaku bullying ada 3 macam, antara lain; bullying fisik, bullying verbal, bullying mental/psikologi. Bullying fisik adalah jenis bullying yang dapat kita lihat karena terjadinya suatu sentuhan fisik antara si pelaku dan korban bullying. Bullying verbal adalah jenis bullying yang terdeteksi melalui indera pendengaran. Bullying mental atau psikologis merupakan jenis bullying yang berbahaya karena tidak bisa ditangkap oleh mata atau telinga. Praktek bullying ini terjadi diam-diam dan diluar radar pemantauan, contohnya mendiamkan, mengucilkan, mencibir, memelototi, mempermalukan, memandang yang merendahkan.Fenomena bullying telah lama menjadi bagian dari dinamika sekolah. Umumnya orang lebih mengenalnya dengan istilah-istilah seperti penggencetan, pemalakan, pengucilan, intimidasi, dan lain-lain. Istilah bullying sendiri memiliki makna yang lebih luas, mencakup berbagai bentuk penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti orang lain sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya. Jika tindakan bullying terus dibiarkan, maka besar kemungkinan tujuan pendidikan yang tertera di Undang-Undang Republik Indonesia akan sangat sulit dicapai, untuk itu dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk memberantas atau mencegah tindakan bullying seperti pemerintah, masyarakat, pihak sekolah, orangtua, dan siswa. Salah satu pihak sekolah yang sangat berperan dalam mencegah dan mengentaskan tindakan bullying yaitu guru BK/Konselor. Guru BK/Konselor mempunyai peran penting dalam menanggulangi atau mencegah tindakan bullying di sekolah. Oleh sebab itu, guru BK perlu menangani secara komprehensif dan sistematis untuk mencegah dan mengentaskan tindakan bullying di sekolah.

    Konseling spiritual terdapat intervensi Tuhan dalam kehidupan manusia untuk menolongnya agar dapat mengatasi masalah dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Tujuan konseling spiritual adalah pengalaman dan pemantapan identitas spiritual atau keyakinan kepada Tuhan. Kegiatan bimbingan dan konseling merupakan jenis keterampilan yang pada intinya mengajak, membimbing, dan mengarahkan klien kembali kepada fitrah, maka siapa saja yang akan mendaami profesi ini, dia harus memiliki keimanan, kemakrifatan, dan ketauhidan yang berkualitas. Karena sudah sangat jelas, bahwa profesi konseling adalah usaha sadar untuk memahami kondisi klien baik secara jasmani maupun secara Rohani yang kemudian mengantarkan konseli untuk menemukan solusi.

B. Kajian Teoritis

1. Definisi Bullying 

    Kata bullying berasal dari Bahasa Inggris yaitu “bully” yang artinya menggertak atau menggangu. Dalam Bahasa Indonesia, secara etimologi kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah. Sejiwa yang menyatakan bahwa bullying adalah situasi dimana seseorang yang kuat (bisa secara fisik maupun mental) menekan, memojokkan, melecehkan, menyakiti seseorang yang lemah dengan sengaja dan berulang-ulang, untuk menunjukkan kekuasaannya. Dalam hal ini sang korban tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya sendiri karena lemah secara fisik atau mental.

    Menurut Ken Rigby, Bullying adalah sebuah hasrat untuk menyakiti orang lain. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang dan dilakukan dengan senang

    Coloroso membagi bullying menjadi menjadi tiga bentuk umum yaitu verbal, fisik dan relasional. Bullying secara verbal, merupakan bentuk bullying yang sering terjadi dan paling mudah dilakukan. Bentuk bullying secara verbal meliputi memanggil dengan panggilan tertentu yang memiliki asosiasi negatif, misalnya si pincang, si cacat, mengambil benda (uang, makanan), menghina, mengeluarkan kata-kata yang sifatnya rasis. Bullying secara fisik merupakan bentuk bullying yang mudah untuk dideteksi dan kasat mata. Hal ini meliputi memukul, menampar, menendang, mencekik, dan lain lain. Bullying relasional adalah pelemahan harga diri korban yang dilakukan melalui pengabaian. Bentuk bullying ini sukar dideteksi. Sifat bullying ini adalah menghilangkan kepercayaan diri orang dengan cara menjauhkan individu dengan kelompok permainan, menganggap ketidak beradaan korban dalam lingkungan pergaulan dan menyebarkan gosip tentang korban.

    Bullying memiliki dampak fisik dan psikologis, secara fisik Sullivan menjelaskan bahwa perilaku bullying diantaranya adalah dampak yang mengakibatkan sakit secara fisik seperti patah tulang,gigi rusak, gegar otak, luka dimata bahkan kerusakan otak permanen. Perilaku bullying yangdirasakan oleh korban akan memberikan dampak yang tidak baik bagi perkembangan korban. Ketika siswa menjadi korban bullying mengakui bahwa mereka sangat terganggu dengan perlakuan bullying. Dampak psikologis bullying adalah harga diri, dikucilkan, ketidakhadiran, reaksi Emosional, efek domino, dampak dalam pendidikan dan bunuh diri.

2. Faktor penyebab dan karakteristik bullying

    Kompleksitas masalah keluarga seperti ketidakhadiran ayah, ibu menderita depresi, kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, perceraian orang tua, ketidakmampuan social ekonomi merupakan penyebab agresi yang signifikan. Dendam dan iri hati serta adanya tradisi senioritas, kemudian kurangnya pengawasan dan bimbingan etika dari para guru serta sekolah dengan kedisiplinan yang sangat kaku atau sekolah dengan peraturan yang tidak konsisten menjadi penyebab munculnya tindakan bullying. 

Menurut Mulyani Rina karakteristik bullying ada tiga diantaranya:
  • Ada perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korban
  • Tindakan itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga menimbilkan perasaan
    tertekan korban
  • Perilaku itu dilakukan secara berulang atau terus-menerus
    Bullying terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yaitu faktor keluarga, teman sebaya, dan sekolah juga dapat membentuk perilaku bullying pada remaja, saat ketiga factor tersebut berjalan dengan tidak kondusif maka remaja akan cenderung melampiaskan gejolak emosinya dalam hal yang negatif, dalam hal ini salah satunya adalah bullying.

    Usman memaparkan bahwa ada pengaruh negative yang signifikan antara kepribadian, komunikasi interpersonal remaja dengan orang tua, peran kelompok teman sebaya dan iklim sekolah terhadap perilaku bullying siswa. Semakin stabil dan baik kepribadian siswa, semakin baik komunikasi interpersonal yang dibangun remaja dengan orangtuanya, semakin besar peran kelompok teman sebaya untuk mengajak temannya dalam menerapkan norma-norma positif yang ada dalam mayarakat serta semakin kondusif iklim di sekolah maka semakin rendah perilaku bullying pada siswa.

C. Model Konseling Spiritual
1. Definisi Konseling Behavioral

    Konseling Behavioral adalah salah satu dari teori-teori konseling yang ada pada saat ini. Konseling behavioral merupakan bentuk adaptasi dari aliran psikologi behavioristik, yang menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak. Pada hakikatnya konseling merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang konselor kepada klien, bantuan di sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya.
    Konsep dasar dari behaviorisme adalah prediksi & control atas perilaku manusia yang tampak. Muhamad Surya memaparkan bahwa dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu untuk mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. Hal yang paling mendasar dalam konseling behavioral adalah penggunaan konsep-konsep behaviorisme dalam pelaksanaan konseling, seperti konsepreinforcement , yang nerupakan bentuk adaptasi dari teori pengkondisian klasik Pavlov, dan pengkondisiaan operan dari Skinner. Menurut Muhammad Surya menyatakan bahwa ada tiga macam hal yang dapat memberi penguatan yaitu : 1). Positive reinforcer, 2).Negative reinforcer, 3).no consequence and natural stimuli.
        Pengertian konseling tidak dapat dipisahkan dengan bimbingan karena keduanya merupakan sebuah keterkaitan. Muhamad Surya mengungkapkan bahwa konseling merupakan bagian inti dari kegiatan bimbingan secara keseluruhan dan lebih berkenaan dengan masalah individu secara Pribadi. behavioral/ behaviorisme adalah satu pandangan teoritis yang beranggapan, bahwa persoalan psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepi-konsepsi mengenai kesadaran dan mentalitas.
    Konseling behavioral menekankan pada pencontohan (modeling). Perry dan Furukawa mendefinisikan modeling sebagai proses belajar melalui observasi Dimana tingkah laku dari seorang individu atau kelompok, sebagai model, berperan sebagai rangsangan bagi pikiran-pikiran, sikap-sikap, atau tingkah laku sebagai bagian dari individu yang lain yang mengobservasi model yang ditampilkan. Dalam pencontohan, individu mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model. Segenap belajar yang diperoleh melalui pengalaman langsung bisa pula diperoleh secara tidak langsung dengan memperhatikan tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya Bandura. 13 Jadi, kecakapan-kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada.

2. Hakikat Manusia Dalam Konseling Behavioral

    
Hakikat manusia dalam pandangan para behaviorist adalah fasif dan mekanistis, manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan lingkungan yang membentuknya. Lebih jelas lagi Muhamad Surya menjelaskan tentang hakikat manusia dalam pandangan teori behavioristi sebagai berikut: dalam teori ini menganggap manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan dengan control terbatas, hidup dalam alam deterministic dan sedikit
peran aktifnya dalam memilih martabatnya. Manusia memulai kehidupnya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya, dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Perilaku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Dapat kita simpulkan dari anggapan teori ini bahwa perilaku manusia adalah efek dari lingkungan, pengaruh yang paling kuat maka itulah yang akan membentuk percaya diri individu.
    
Proses konseling merupakan suatu proses atau pengalaman belajar untuk membentuk konseli mengubah perilakunya sehingga dapat memecahkan masalahnya. Dalam konsep behaviorisme modern, perilaku manusia dipandang dalam mekanisme dan pendekatan ilmiah yang diimplikasikan pada pendekatan secara sistematis dan terstruktur dalam proses konseling. Manusia tidak diasumsikan secara deterministik tetapi merupakan hasil dari pengkondisian sosio kultural. Trend baru dalam behaviorisme adalah diberinya peluang kebebasan dan menambah keterampilan konseli untukmemiliki lebih banyak opsi dalam melakukan respon. Secara filosofis behaviorisme meletakkan manusia dalam kutub yang berlawanan, namun pandangan modern menjelaskan bahwa faktor lingkungan memiliki kekuatan alamiah bagi manusia dalam stimulus-respon, sesuai dengan konsep social learning theory dari albert bandura. Konsep ini menghilangkan pandangan manusia secara mekanistik dan deterministik bahkan dalam tulisan thoresen dan coates, behaviorisme modern merupakan perpaduan antara behavioral-humanistic approaches.

3. Pendekatan Spiritual

    Yusuf Syamsu LN mengemukakan konseling Islam merupakan proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu mengembangkan kesadaran dan komitmen beragamanya (primordial kemakhlukannya yang fitrah tauhidullah) sebagai hamba dan khalifah Allah yang bertanggung jawab untuk mewujudkan kesejahteraan hidup bersama, baik secara fisik jasmaniah maupun psikis rohaniah, baik kebahagiaan di dunia ini maupun di akhirat kelak. Menerapkan konseling Islam akan membantu individu khususnya klien memahami hakekat dirinya sebagai hamba Allah dan pengabdian sebagai khalifah Allah di muka bumi ini sehingga tujuan akhirnya akan memperoleh kebaikan dunia dan kebahagiaan akhirat.

    Kemudian menurut M. Hamdani Bakran Adz Dzaky yang menyatakan konseling Islam adalah suatu aktivitas, memberikan bimbingan, pelajaran dan pedoman kepada individu yang meminta bimbingan dalam hal beragmaa seharusnya seorang klien dapat mengembangkan potensi akal fikirannya, kejiwaannya, keimanannya dan keyakinan serta dapat menanggulangi problematika hidup dan kehidupannya dengan baik dan benar secara mandiri yang berparadigma kepada Al Quran dan as Sunnah Rasulullah SAW. Problematika kehidupan yang dialami remaja terkait dengan perkembangan kepribadiannya yang banyak dipengaruhi oleh teman sebaya sehingga kadangkala menimbulkan pribadi yang tidak berakhlak. Konseling Islam mengajarkan remaja untuk memiliki pribadi yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan dalam Al Quran dan Assunnah.

D. Capaian Keberhasilan
        
        
Selama ini beberapa upaya telah dilakukan oleh sekolah bagi pelaku pelaku bullying, yaitu pemberian hukuman sanksi dan panggilan orang tua ke sekolah untuk bekerja sama memberikan penanganan. Sejauh ini hasil yang dicapai belum maksimal, karena perubahan sikap dan perilaku pelaku bullying hanya sementara. Karena mereka kembali mengulang perbuatannya dilain hari. Alternatif solusi untuk mengatasi masalah bullying anak di sekolah salah satunya dengan konseling behavioral. Konseling behavioral adalah suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional dan kepentingan tertentu”. Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini ialah atas pertimbangan bahwa konselor membantu orang (konseli) belajar atau mengubah perilaku. Konselor berperan membantu dalam proses belajar menciptakan konvisi yang sedemikian rupa sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya. Penggunaan konseling behavioral sebagai alternatif pemecahan masalah, menurut penulis karena mengingat konseling behavioral memiliki konsep-konsep dasar sebagai berikut : 
  • Manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Manusia memulai kehidupan dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.
  • Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.
  • Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar (pembiasaan klasik, pembiasaan operan dan peniruan).
  • Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidakpuasan yang diperolehnya.
  • Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi- kondisi pembentuk tingkah laku.

    Dengan melihat keunggulan konseling behavioral tersebut diatas, penulis berharap dapat meminimalisir pelaku bullying di institusi sekolah, sehingga sekolah dapat menjadi tempat belajar yang aman, menyenangkan, merangsang keinginan untuk belajar, bersosialisasi dan mengembangkan semua potensi siswa baik akademik, sosial maupun emosional. bimbingan konseling spiritual memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatasi bullying terhadap pembinaan siswa. Dimana guru bimbingan dan konseling memiliki peranan dalam memberikan bantuan, pembinaan/pengarahan, pencerahan, teladan, motivasi dan pemecahan masalah. Sehingga dalam konseling spiritual siswa dapat dibentuk secara terstruktur, dan saling mendukung dalam proses mengatasi bullying.

  Daftar Pustaka
Coloroso, Barbara, 2007. Stop Bullying (Memutus Rantai Kekerasan Anak Dari Prasekolah
Hingga SMU). Jakarta: PT. Ikrar Mandiri abadi.
JP. Chaplin, 2002. Kamus Lengkap Psikologi (Terj. Kartono, Kartini). Jakarta: Raja Grapindo.
Muhamad, Surya. 1988. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan (Teori&Konsep). Yogyakarta:
Penerbit Kota Kembang.
Mulyani Rina. 2013. Pendekatan Konseling Spiritual Untuk Mengatasi Masalah Bullying
(Kekerasan) Siswa di SMAN 1 Depok Sleman Jogjakarta (Skripsi, Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Ponny Retno Astuti, 2008. Meredam Bulliying : 3 Cara Efektif Mengatasi Kekerasan Pada Anak.
Rosjidan, 1988. Pengantar Teori-teori Konseling. Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Sejiwa. 2008. Bullying : Mengatasi Kekerasan Di Sekolah Dan Lingkungan Sekitar Anak. Jakarta:
Grasindo. Sigit Kurniawan 2017 Siswa SD Di Gebog, Kudus
Sullivan, 2002. The Anti-Bulliying Handbook. Oxford: Oxford University Press.
Tumon, Matraisa Bara Asie. (2014). Studi Deskriptif Perilaku Bullying pada Remaja. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa. Universitas Surabaya Vol.3 No.11.
Usman, Irvan. (2013). Kepribadian, Komunikasi, Kelompok Teman Sebaya,Iklim Sekolah, dan
Perilaku Bullying. Jurnal Humanitas (Indonesian Psycological Journal). Vol 10 No 1
Wiyani, Novan Ardy. 2012. Save Our Children From School Bullying. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Yusuf, Syamsu & Juntika, Nurihsan. 2005. Landasan Bimbingan Dan Konseling. Bandung:
Rosdakaraya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar