Rabu, 27 Desember 2023

MODEL KONSELING BEHAVIORAL DENGAN PENDEKATAN KONSELING SPIRITUAL UNTUK MENGATASI BULLYING PADA SISWA


A.Latar Belakang
 

Sekolah merupakan lembaga formal yang bertujuan melaksanakan semua proses pembelajaran, secara optimal dan bermutu untuk dapat melahirkan siswa yang berkualitas. ,Tidak semua perilaku yang ada dari diri kita berasal dari dalam dan bawaan manusia, sebagian dari perilaku itu merupakan hasil dari suatu proses belajar. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku adalah lingkungan sekolah atau lingkungan sosial. Kenyataannya tidak semua lingkungan sosial memberikan pengaruh positif, adapun pengaruh negatif yang kerap dirasakan oleh individu lainnya. Tindakan kekerasan, mengancam atau mengintimidasi lebih di kenal dengan istilah bullying. “Perilaku Bullying dapat ditemukan baik pada anak laki-laki maupun Perempuan akan tetapi intensitasnya dipengaruhi oleh proses sosialisasi yang mereka terima, bukan karena adanya perbedaan tingkat keberanian dan ukuran fisik”. Bullying merupakan permasalahan yang sering terjadi di lingkungan sosial serta menjadi topik yang sangat hangat diperbincangkan dan sampai menemukan solusi. Keberadaan Bullying dapat sampai mengakibatkan kehilangan nyawa. Maka di butuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah bullying. Perilaku bullying ada 3 macam, antara lain; bullying fisik, bullying verbal, bullying mental/psikologi. Bullying fisik adalah jenis bullying yang dapat kita lihat karena terjadinya suatu sentuhan fisik antara si pelaku dan korban bullying. Bullying verbal adalah jenis bullying yang terdeteksi melalui indera pendengaran. Bullying mental atau psikologis merupakan jenis bullying yang berbahaya karena tidak bisa ditangkap oleh mata atau telinga. Praktek bullying ini terjadi diam-diam dan diluar radar pemantauan, contohnya mendiamkan, mengucilkan, mencibir, memelototi, mempermalukan, memandang yang merendahkan.Fenomena bullying telah lama menjadi bagian dari dinamika sekolah. Umumnya orang lebih mengenalnya dengan istilah-istilah seperti penggencetan, pemalakan, pengucilan, intimidasi, dan lain-lain. Istilah bullying sendiri memiliki makna yang lebih luas, mencakup berbagai bentuk penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti orang lain sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya. Jika tindakan bullying terus dibiarkan, maka besar kemungkinan tujuan pendidikan yang tertera di Undang-Undang Republik Indonesia akan sangat sulit dicapai, untuk itu dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak untuk memberantas atau mencegah tindakan bullying seperti pemerintah, masyarakat, pihak sekolah, orangtua, dan siswa. Salah satu pihak sekolah yang sangat berperan dalam mencegah dan mengentaskan tindakan bullying yaitu guru BK/Konselor. Guru BK/Konselor mempunyai peran penting dalam menanggulangi atau mencegah tindakan bullying di sekolah. Oleh sebab itu, guru BK perlu menangani secara komprehensif dan sistematis untuk mencegah dan mengentaskan tindakan bullying di sekolah.

    Konseling spiritual terdapat intervensi Tuhan dalam kehidupan manusia untuk menolongnya agar dapat mengatasi masalah dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Tujuan konseling spiritual adalah pengalaman dan pemantapan identitas spiritual atau keyakinan kepada Tuhan. Kegiatan bimbingan dan konseling merupakan jenis keterampilan yang pada intinya mengajak, membimbing, dan mengarahkan klien kembali kepada fitrah, maka siapa saja yang akan mendaami profesi ini, dia harus memiliki keimanan, kemakrifatan, dan ketauhidan yang berkualitas. Karena sudah sangat jelas, bahwa profesi konseling adalah usaha sadar untuk memahami kondisi klien baik secara jasmani maupun secara Rohani yang kemudian mengantarkan konseli untuk menemukan solusi.

B. Kajian Teoritis

1. Definisi Bullying 

    Kata bullying berasal dari Bahasa Inggris yaitu “bully” yang artinya menggertak atau menggangu. Dalam Bahasa Indonesia, secara etimologi kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah. Sejiwa yang menyatakan bahwa bullying adalah situasi dimana seseorang yang kuat (bisa secara fisik maupun mental) menekan, memojokkan, melecehkan, menyakiti seseorang yang lemah dengan sengaja dan berulang-ulang, untuk menunjukkan kekuasaannya. Dalam hal ini sang korban tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya sendiri karena lemah secara fisik atau mental.

    Menurut Ken Rigby, Bullying adalah sebuah hasrat untuk menyakiti orang lain. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang dan dilakukan dengan senang

    Coloroso membagi bullying menjadi menjadi tiga bentuk umum yaitu verbal, fisik dan relasional. Bullying secara verbal, merupakan bentuk bullying yang sering terjadi dan paling mudah dilakukan. Bentuk bullying secara verbal meliputi memanggil dengan panggilan tertentu yang memiliki asosiasi negatif, misalnya si pincang, si cacat, mengambil benda (uang, makanan), menghina, mengeluarkan kata-kata yang sifatnya rasis. Bullying secara fisik merupakan bentuk bullying yang mudah untuk dideteksi dan kasat mata. Hal ini meliputi memukul, menampar, menendang, mencekik, dan lain lain. Bullying relasional adalah pelemahan harga diri korban yang dilakukan melalui pengabaian. Bentuk bullying ini sukar dideteksi. Sifat bullying ini adalah menghilangkan kepercayaan diri orang dengan cara menjauhkan individu dengan kelompok permainan, menganggap ketidak beradaan korban dalam lingkungan pergaulan dan menyebarkan gosip tentang korban.

    Bullying memiliki dampak fisik dan psikologis, secara fisik Sullivan menjelaskan bahwa perilaku bullying diantaranya adalah dampak yang mengakibatkan sakit secara fisik seperti patah tulang,gigi rusak, gegar otak, luka dimata bahkan kerusakan otak permanen. Perilaku bullying yangdirasakan oleh korban akan memberikan dampak yang tidak baik bagi perkembangan korban. Ketika siswa menjadi korban bullying mengakui bahwa mereka sangat terganggu dengan perlakuan bullying. Dampak psikologis bullying adalah harga diri, dikucilkan, ketidakhadiran, reaksi Emosional, efek domino, dampak dalam pendidikan dan bunuh diri.

2. Faktor penyebab dan karakteristik bullying

    Kompleksitas masalah keluarga seperti ketidakhadiran ayah, ibu menderita depresi, kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, perceraian orang tua, ketidakmampuan social ekonomi merupakan penyebab agresi yang signifikan. Dendam dan iri hati serta adanya tradisi senioritas, kemudian kurangnya pengawasan dan bimbingan etika dari para guru serta sekolah dengan kedisiplinan yang sangat kaku atau sekolah dengan peraturan yang tidak konsisten menjadi penyebab munculnya tindakan bullying. 

Menurut Mulyani Rina karakteristik bullying ada tiga diantaranya:
  • Ada perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korban
  • Tindakan itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga menimbilkan perasaan
    tertekan korban
  • Perilaku itu dilakukan secara berulang atau terus-menerus
    Bullying terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yaitu faktor keluarga, teman sebaya, dan sekolah juga dapat membentuk perilaku bullying pada remaja, saat ketiga factor tersebut berjalan dengan tidak kondusif maka remaja akan cenderung melampiaskan gejolak emosinya dalam hal yang negatif, dalam hal ini salah satunya adalah bullying.

    Usman memaparkan bahwa ada pengaruh negative yang signifikan antara kepribadian, komunikasi interpersonal remaja dengan orang tua, peran kelompok teman sebaya dan iklim sekolah terhadap perilaku bullying siswa. Semakin stabil dan baik kepribadian siswa, semakin baik komunikasi interpersonal yang dibangun remaja dengan orangtuanya, semakin besar peran kelompok teman sebaya untuk mengajak temannya dalam menerapkan norma-norma positif yang ada dalam mayarakat serta semakin kondusif iklim di sekolah maka semakin rendah perilaku bullying pada siswa.

C. Model Konseling Spiritual
1. Definisi Konseling Behavioral

    Konseling Behavioral adalah salah satu dari teori-teori konseling yang ada pada saat ini. Konseling behavioral merupakan bentuk adaptasi dari aliran psikologi behavioristik, yang menekankan perhatiannya pada perilaku yang tampak. Pada hakikatnya konseling merupakan sebuah upaya pemberian bantuan dari seorang konselor kepada klien, bantuan di sini dalam pengertian sebagai upaya membantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam kehidupannya.
    Konsep dasar dari behaviorisme adalah prediksi & control atas perilaku manusia yang tampak. Muhamad Surya memaparkan bahwa dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu untuk mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya. Hal yang paling mendasar dalam konseling behavioral adalah penggunaan konsep-konsep behaviorisme dalam pelaksanaan konseling, seperti konsepreinforcement , yang nerupakan bentuk adaptasi dari teori pengkondisian klasik Pavlov, dan pengkondisiaan operan dari Skinner. Menurut Muhammad Surya menyatakan bahwa ada tiga macam hal yang dapat memberi penguatan yaitu : 1). Positive reinforcer, 2).Negative reinforcer, 3).no consequence and natural stimuli.
        Pengertian konseling tidak dapat dipisahkan dengan bimbingan karena keduanya merupakan sebuah keterkaitan. Muhamad Surya mengungkapkan bahwa konseling merupakan bagian inti dari kegiatan bimbingan secara keseluruhan dan lebih berkenaan dengan masalah individu secara Pribadi. behavioral/ behaviorisme adalah satu pandangan teoritis yang beranggapan, bahwa persoalan psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepi-konsepsi mengenai kesadaran dan mentalitas.
    Konseling behavioral menekankan pada pencontohan (modeling). Perry dan Furukawa mendefinisikan modeling sebagai proses belajar melalui observasi Dimana tingkah laku dari seorang individu atau kelompok, sebagai model, berperan sebagai rangsangan bagi pikiran-pikiran, sikap-sikap, atau tingkah laku sebagai bagian dari individu yang lain yang mengobservasi model yang ditampilkan. Dalam pencontohan, individu mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model. Segenap belajar yang diperoleh melalui pengalaman langsung bisa pula diperoleh secara tidak langsung dengan memperhatikan tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya Bandura. 13 Jadi, kecakapan-kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada.

2. Hakikat Manusia Dalam Konseling Behavioral

    
Hakikat manusia dalam pandangan para behaviorist adalah fasif dan mekanistis, manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan lingkungan yang membentuknya. Lebih jelas lagi Muhamad Surya menjelaskan tentang hakikat manusia dalam pandangan teori behavioristi sebagai berikut: dalam teori ini menganggap manusia bersifat mekanistik atau merespon kepada lingkungan dengan control terbatas, hidup dalam alam deterministic dan sedikit
peran aktifnya dalam memilih martabatnya. Manusia memulai kehidupnya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya, dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Perilaku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Dapat kita simpulkan dari anggapan teori ini bahwa perilaku manusia adalah efek dari lingkungan, pengaruh yang paling kuat maka itulah yang akan membentuk percaya diri individu.
    
Proses konseling merupakan suatu proses atau pengalaman belajar untuk membentuk konseli mengubah perilakunya sehingga dapat memecahkan masalahnya. Dalam konsep behaviorisme modern, perilaku manusia dipandang dalam mekanisme dan pendekatan ilmiah yang diimplikasikan pada pendekatan secara sistematis dan terstruktur dalam proses konseling. Manusia tidak diasumsikan secara deterministik tetapi merupakan hasil dari pengkondisian sosio kultural. Trend baru dalam behaviorisme adalah diberinya peluang kebebasan dan menambah keterampilan konseli untukmemiliki lebih banyak opsi dalam melakukan respon. Secara filosofis behaviorisme meletakkan manusia dalam kutub yang berlawanan, namun pandangan modern menjelaskan bahwa faktor lingkungan memiliki kekuatan alamiah bagi manusia dalam stimulus-respon, sesuai dengan konsep social learning theory dari albert bandura. Konsep ini menghilangkan pandangan manusia secara mekanistik dan deterministik bahkan dalam tulisan thoresen dan coates, behaviorisme modern merupakan perpaduan antara behavioral-humanistic approaches.

3. Pendekatan Spiritual

    Yusuf Syamsu LN mengemukakan konseling Islam merupakan proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu mengembangkan kesadaran dan komitmen beragamanya (primordial kemakhlukannya yang fitrah tauhidullah) sebagai hamba dan khalifah Allah yang bertanggung jawab untuk mewujudkan kesejahteraan hidup bersama, baik secara fisik jasmaniah maupun psikis rohaniah, baik kebahagiaan di dunia ini maupun di akhirat kelak. Menerapkan konseling Islam akan membantu individu khususnya klien memahami hakekat dirinya sebagai hamba Allah dan pengabdian sebagai khalifah Allah di muka bumi ini sehingga tujuan akhirnya akan memperoleh kebaikan dunia dan kebahagiaan akhirat.

    Kemudian menurut M. Hamdani Bakran Adz Dzaky yang menyatakan konseling Islam adalah suatu aktivitas, memberikan bimbingan, pelajaran dan pedoman kepada individu yang meminta bimbingan dalam hal beragmaa seharusnya seorang klien dapat mengembangkan potensi akal fikirannya, kejiwaannya, keimanannya dan keyakinan serta dapat menanggulangi problematika hidup dan kehidupannya dengan baik dan benar secara mandiri yang berparadigma kepada Al Quran dan as Sunnah Rasulullah SAW. Problematika kehidupan yang dialami remaja terkait dengan perkembangan kepribadiannya yang banyak dipengaruhi oleh teman sebaya sehingga kadangkala menimbulkan pribadi yang tidak berakhlak. Konseling Islam mengajarkan remaja untuk memiliki pribadi yang sesuai dengan ajaran dan tuntunan dalam Al Quran dan Assunnah.

D. Capaian Keberhasilan
        
        
Selama ini beberapa upaya telah dilakukan oleh sekolah bagi pelaku pelaku bullying, yaitu pemberian hukuman sanksi dan panggilan orang tua ke sekolah untuk bekerja sama memberikan penanganan. Sejauh ini hasil yang dicapai belum maksimal, karena perubahan sikap dan perilaku pelaku bullying hanya sementara. Karena mereka kembali mengulang perbuatannya dilain hari. Alternatif solusi untuk mengatasi masalah bullying anak di sekolah salah satunya dengan konseling behavioral. Konseling behavioral adalah suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional dan kepentingan tertentu”. Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini ialah atas pertimbangan bahwa konselor membantu orang (konseli) belajar atau mengubah perilaku. Konselor berperan membantu dalam proses belajar menciptakan konvisi yang sedemikian rupa sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya. Penggunaan konseling behavioral sebagai alternatif pemecahan masalah, menurut penulis karena mengingat konseling behavioral memiliki konsep-konsep dasar sebagai berikut : 
  • Manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Manusia memulai kehidupan dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian.
  • Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya.
  • Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukum-hukum belajar (pembiasaan klasik, pembiasaan operan dan peniruan).
  • Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidakpuasan yang diperolehnya.
  • Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar, sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi- kondisi pembentuk tingkah laku.

    Dengan melihat keunggulan konseling behavioral tersebut diatas, penulis berharap dapat meminimalisir pelaku bullying di institusi sekolah, sehingga sekolah dapat menjadi tempat belajar yang aman, menyenangkan, merangsang keinginan untuk belajar, bersosialisasi dan mengembangkan semua potensi siswa baik akademik, sosial maupun emosional. bimbingan konseling spiritual memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatasi bullying terhadap pembinaan siswa. Dimana guru bimbingan dan konseling memiliki peranan dalam memberikan bantuan, pembinaan/pengarahan, pencerahan, teladan, motivasi dan pemecahan masalah. Sehingga dalam konseling spiritual siswa dapat dibentuk secara terstruktur, dan saling mendukung dalam proses mengatasi bullying.

  Daftar Pustaka
Coloroso, Barbara, 2007. Stop Bullying (Memutus Rantai Kekerasan Anak Dari Prasekolah
Hingga SMU). Jakarta: PT. Ikrar Mandiri abadi.
JP. Chaplin, 2002. Kamus Lengkap Psikologi (Terj. Kartono, Kartini). Jakarta: Raja Grapindo.
Muhamad, Surya. 1988. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan (Teori&Konsep). Yogyakarta:
Penerbit Kota Kembang.
Mulyani Rina. 2013. Pendekatan Konseling Spiritual Untuk Mengatasi Masalah Bullying
(Kekerasan) Siswa di SMAN 1 Depok Sleman Jogjakarta (Skripsi, Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Ponny Retno Astuti, 2008. Meredam Bulliying : 3 Cara Efektif Mengatasi Kekerasan Pada Anak.
Rosjidan, 1988. Pengantar Teori-teori Konseling. Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Sejiwa. 2008. Bullying : Mengatasi Kekerasan Di Sekolah Dan Lingkungan Sekitar Anak. Jakarta:
Grasindo. Sigit Kurniawan 2017 Siswa SD Di Gebog, Kudus
Sullivan, 2002. The Anti-Bulliying Handbook. Oxford: Oxford University Press.
Tumon, Matraisa Bara Asie. (2014). Studi Deskriptif Perilaku Bullying pada Remaja. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa. Universitas Surabaya Vol.3 No.11.
Usman, Irvan. (2013). Kepribadian, Komunikasi, Kelompok Teman Sebaya,Iklim Sekolah, dan
Perilaku Bullying. Jurnal Humanitas (Indonesian Psycological Journal). Vol 10 No 1
Wiyani, Novan Ardy. 2012. Save Our Children From School Bullying. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Yusuf, Syamsu & Juntika, Nurihsan. 2005. Landasan Bimbingan Dan Konseling. Bandung:
Rosdakaraya.

Jumat, 08 Juni 2018

PENYULUHAN AGAMA MENGENAL ALLAH LEBIH DEKAT


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi pepatah. Banyak orang mengenal Allah, akan tetapi pernahkah kita mengukur sejauh mana pengetahuan dan pengenalan kita kepada-Nya? Cukupkah mengenalnya dengan mengetahui dan menghafal nama-nama dan sifat-sifat-Nya? Mengetahui dan menghafalnya merupakan sebagian dari pengenalan kita kepada Allah, akan tetapi ada yang lebih penting, yaitu apa dan bagaimana sikap kita terkait dengan nama dan sifat itu.
Lalu bagaimana kita dapat mengenali Allah dengan sebenar benar nya? Pengenalan yang sesungguhnya adalah apabila pengetahuan kita tentang sifat-sifat dan nama-nama Allah itu kemudian di barengi dengan penyikapan yang benar dan proporsional.
Mengenali Allah menjadi sangat penting karena banyak sekali dalil sangat kuat yang telah membuktikan keberadaan,sifat-sifat, dan nama-nama-Nya, baik dalil naqli, dalil aqli maupun dalil fitri yang tak terbantahkan. Kalau dalil-dalil yang menunjukan keberadaan dan kekuasaan-Nya demikian banyak dan kuat, berarti kita ketinggalan informasi bila masih belum mengenal-Nya.
Dan manfaat yang kita rasakan dengan mengenal Allah itu adalah di akhirat, di mana kita akan mendapatkan surga dan keridhaan-Nya. Tidak ada suatu kenikmatan yang sebanding apalagi melebihi kenikmatan di akhirat itu. Yaitu ketika seorang hamba dimasukkan kedalam surga dan mendapatkan  keridhaan Allah swt. Semoga kita termasuk orang-oran yang mengenal Allah dengan baik, supaya kehidupan kita lebih baik dan pada akhirnya kita mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat di bawah naungan rahmat dan ridho-Nya, Amin.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Cara Mengenal Allah
Makrifatullah adalah bahasa arab yang terdiri dari dua kata, yaitu Makrifat dan Allah. Makrifat berarti mengetahui, mengenal. Mengengenal Allah yang di ajarkan kepada Manusia adalah mengenal melalui hasil penciptaannya bukan melalui zat Allah. Karena akal kita memiliki keterbatasan untuk memahami seluruh ilmu yang ada di dunia ini, apalagi zat Allah.
Makrifatullah merupakan ilmu tertinggi yang harus di pahami oleh manusia. Hakikat ilmua adalah memberikan keyakinan kepada orang yang mendalamiya. Memahami makrifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, kepada cahaya yang terang yaitu keimanan. (Qs : Al-luqman(31):18).
Apabila pengaruh positif dari mengenal Allah diketahui, tentu manusia akan berlomba-lomba untuk mengenal-Nya lebih jauh. Karena itu, orang yang beriman selalu berusaha mengenali tuhannya secara baik. Namun Allah itu bersifat gaib dan tidak terjangkau oleh indra kita, sehingga upaya untuk mengenal-Nya lebih jauh dari itu tidak dapat di lakukan secara baik, jika hanya mengandalkan pengamatn indrawi. Lantaran kegaiban, kesempurnaan, dn keagungan-Nya melalui ayat-ayat-Nya. Adapun ayat-ayat atau tanda-tanda keberadaan, keagungan, dan kekuasaan Allah itu, secara global dapat di klasifikasikan menjadi dua bagian yaitu ayat-ayat qauliyah (ucapan), berupa firman-firman-Nya dalam kitab suci yan telah di wahyukan kepada para nabi dan rosul, dan ayat-ayat kauniyah (fenomena alam), yaitu tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terbesar di alam semesta ini.
Menurut pendapat Syeikh Ahmad Arifin berpendapat bahwa setiap yang ada pasti dapat di kenal, dan hanya yang tidak ada yang tidak bisa di kenal. Karena Allah adalah zat yang wajib al-wujud yaitu zat yang wajib adanya, tentulah Allah dapat di kenal, dan kewajiban pertama bagi setiap muslim adalah mengenal kepada yang di sembahnya, barulah ia beruat ibadah sebagai mana sabda nabi:
أَوَلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَةُ اللهِ
Artinya: “Pertama sekali di dalam Aganma adalah mengenal Allah”
Kenalilah dirimu sebagaimana sabda nabi Muhammad:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ وَمَنْ عَرَفَ رَبَّهُ فَسَدَ جَسَدَهُ
Artinya: Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya dan barang siapa mengenal Tuhannya maka binasalah (fana) dirinya.
Lalu dari mana yang wajib kita kenal? Sesungguhnya diri kita terbagi dua. Sebagai firman Allah dalam surat Luqman ayat 20:
وَأَسْبَغَ عَليْكُمْ نِعَمَهُ ظَهِرَةً وَبَاطِنَةً
Artinya: Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zhahir dan nikmat batin.
Jadi dari berdasarka ayat di atas, diri kita terbagi menjadi dua:
1.      Diri zhahir yaitu diri yang dapat dilihat oleh mata dan bisa diraba oleh tangan.
2.      Diri batin yaitu yang tidak dapat di pandang oleh mata dan tidak dapat di raba oleh tangan, tetapi dapat di rasakan oleh mata hati. Adapun dalil mengenai terbaginya diri manusia karena sedmikian pentingnya peran diri yang batin inidi dalam upaya untuk memperoleh pengenalan kepada Allah, itulah sebabnya kenapa kita di suruh melihat kedalam diri (introspeksi diri) sebagaimana firman Allah dalam surat az-zariyat 21:
وَفِى اَنْفُسِكُمْ اَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
Artinya: Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya.
Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan kedalam dirinya di sebabkan karena  didalam diri manusia itu Allah telah menciptakan sebuah mahligai yang mana di dalamnya Allah telah menanamkan rahasia-Nya. Sebagaimana sabda nabi dalam hadist hudsi:
بَنَيْتُ فِى جَوْفِ اِبْنِ آدَمَ قَصْرًا وَفِى الْقَصْرِ صَدْرً وَفِى الصَّدْرِ قَلْبًا وَفِى الْقَلْبِ فُؤَادً وَفِى الْفُؤَادِ شَغْافًا وَفِى الشَّغَافِ لَبًّا وَفِى لَبِّ سِرًّا وَفِى السِّرِّ أَنَا (الحديث القدسى)
Artinya: “Aku jadikan dalam rongga anak adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada hati (qolbu) namanya dan dalam hati(qolbu) ada mata hati (fuad) dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf) dan di balik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr) dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah”.(Hadist Qudsi).
Bagaimanakah maksud hadis ini? Tanyalah kepada Ahlinya, yaitu ahli zikir, Sebagaimana firman Allah dalam surat An-nahl ayat 43:
فَاسَئَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ
Artinya: Tanyalah kepada Ahli dzikrullah (Ahlu Sufi) kalau kamu benar-benar tidak tahu.
Karena Allah itu ghaib, maka perkara ini termasuk, perkara yang dilarang untuk menyampaikannya dan haram pula  di paparkan kepada yang bukan ahlinya (orang awam), sebagaimana dikatakan para sufi:
وَلِلَّهِ مَحَارِمٌ فَلاَ تَهْتَكُوْهَا
Artinya: Bagi Allah itu ada beberapa rahasia yang di haramkan membukannya kepada yang bukan Ahlinya.
Oleh karena itu, agar kita dapat mengenal Allah, maka kita harus mempunyai pembimbing rohani atau mursyid. Tentang ini Abu Ali ats-Tsaqafi berkata,”Seandainya seseorang mempelajari jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ketingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang syeikh yang memiliki akhlak luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat.
B.     Hal-Hal yang Menghalangi Makrifatullah
Mengenal Allah atau makrifatullah akan sangat menentukan kesalehan dan kebaikan seseoran di dunia maupun di akhirat. Kebaikan dan kesalehanya berbanding lurus dengan tingkat pengenalanya kepada Allah itu. Semakin mengenal Allah, semakin ssaleh dan semakin baik amal seseorang. Sebaliknya, semakin buruk amal seseorang, itu menunjukan bahwa ia tidak mengenal tuhanya dengan baik.
Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Al-Fawa’id mengatakan bahwa apabila seoran hamba telah bertekat untuk mengenal Allah, mendekat kepada-Nya, dan mengikuti kehendaknya, ia akan digoda dan dihadang oleh berbagai tipu daya dan penghalang, sehingga di awal perjalanannya, ia akan terhambat dan tertipu oleh berbagai kesenangan, kekuasaan, kelezatan, pakaian, nafsu, dan sejenisnya. Ulama yan sangat terkenal dengan karya-karya ilmiyah ini kemudian berkata: “Bila dilihat dari sumber dan penyebabnya, hal-hal yang menghalangi makrifatullah itu ada dua macam: Pertama, Syahwat, atau penyakit-penyakit nafsu, yaitu penyakit-penyakit yang kaitannya dengan hati, seperti nafsu dan kesenangan.Kedua: Syubuhat atau penyakit-penyakit intelektual, yaitu informasi-informasi yang dan pikiran yan menimbulkan keraguan. Apabila seseorang terjangkiti oleh penyakit-penyakit itu, akan sulit baginya untuk mengenal tuhanya.”
Sesungguhnya Allah swt, sangat dekat dengan diri manusia, bahkan lebih dekat dari urat lehernya, tetapi kenapa terasa jauh dan sulit untuk mengenalnya, karena di dalam diri manusia ada dinding yang tebal, dan berikut ada hal-hal yang mengalang-halangi  kita mengenal Allah Antara lain:
1.    Al kibr (Kesombongan), seperti yang telah di sebutkan di dalam Alqur’an yaitu ( Qs : 25 : 21 ) Sombong disini adalah sombong yang dapat menghalangi kita dari makrifatullah yaitu ketika kita menolak kebenaran dan mremehkan orang lain.
2.    Penyakit syahwah (penyakit hati) yang mnghalangi pengenalan kita kepada Allah adalah Al-fisq (kefasikeran) lawan dari al-adalah (keadilan), al adala dan alfasiq berkaitan dengan kredibitas moral. Orang yang adil dalam kortek ini adalah orang yang tidak tercela. Orang fasiq adalah orang yang ternoda kehormatan, harga diri, kewibawaan serta kredibilitas moral dan sosialnya akibat kemaksiatan yang ia lakukan
3.    Taklid buta (sikap meniru tanpa berpikir), ( Qs :2:166-167)
4.    Keras kepala dan menantang ( Qs: 22:8-9)
5.    Bersandar pada panca indra ( Qs: 2-55)
6.    Dusta ( Qs: 7:176)
7.    Ragu-ragu ( Qs: 6:109-110).
Tanda-tanda dan indikasi penyakit ini adalah apabila seseorang tidak menampakkan identitas dan kepribadian yang jelas, apakah agama dan keyakinannya, apakah ia muslim atau non-Muslim, karena tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan keyakinan dan keislaman.
Banyak berbuat maksiat atau (Al-Ma’ashi) lawan dari ketaatan. Orang yang bermaksiat adalah orang yang tidak melanggar batas-batas hukum Allah. Namun bagaimana juga, Allah akan mengampuni dosanya sebelum matahari belum terbit dari barat. Dia Allah swt. Maha pengampu lagi maha penyayang.
Yang terakhir adalah Al-jahl (kebodohan). Karena itu, islam memerangi kebodohan dan menjunjung tinggi ilmu dan ulama (orang-orang yang berilmu). Bahkan wahyu yang pertama kali turun adalah perintah untuk melakukan hal yang dapat menghilangkan kebodohan.
Penyakit-penyakit intelektual bermula dari ketidaktahuan (kebodohan). Karena itu, penyembuhannya adalah dengan menghilangkan firusnya, yaitu kebodohan. Kalau penyakit-penyakit hati di berantas dengan jihad (memerangi hawa nafsu) penyakit-penyakit intelektual di perangi dengan ilmu,membaca, belajar dan mengaji. Semoga kita dapat memerangi nafsu kita dan tidak bosan untuk belajar dan belajar lagi, membaca dan membaca lagi. Dengan itu iman kita akan menjadi kuat dan kokoh.
C.    Bukti Keberadaan Allah
Banyak pakar yang memperdebatkan masalah ini, banyak bahkan yang mengkaji ulang perihal masalah yang satu ini, ilmu sekarang betul-betul telah berkembang dan digunakan untuk menafsir, memperkirakan bahkan memberi kejelasan tentang bukti adanya Allah, namun ketahuilah wahai sahabat ku sekalian semua itu bersumber dari dia maha pencipta, kau kuat karena dia yang maha kuat, kau hidup karena dia yang maha hidup, bahkan kau cerdas dan intelek semuanya tiada lain bersumber dari-Nya. Nah oleh karena itu mari sejenak berfikir dan merenung untuk mengingatnya, selanjutnya saya akan memberi sedikit ilmu pikir dan pengalamannya.
Adanya Allah swt adalah suatu yang bersifat aksiomatik (sesuatu yang kebenarannya telah di akui). Namun, di sini akan kemukakan dalil-dalil yang menyatakan wujud (adanya) Allah swt, untuk memberikan pengertian secara rasional. Mengimani wujud Allah swt ,wujud Allah telah di buktikan oleh fitrah, akal, syara’ dan indera.
1.         Dalil fitrah
2.         Manusia diciptakan dengan fitrah bertuhan, sehingga kadangkala disadari atau tidak naluri berketuhanannya itu akan bangkit.
Firman Allah: “Dan (ingatlah), ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukanlah aku ini tuhanmu?”mereka menjawab:”Betul (Engkau tuhan kami), kami menjadi saksi”. (al-A’raf:172). Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, niscaya mereka menjawab:”Allah”, maka dari manakah mereka dapat dipalingkan (dari penyembah Allah), (az-Zukhruf:87).
            Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan sesungguhnya kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Al Bukhari). Ayat dan hadist tersebut menjelaskan kondisi fitrah manusia yang bertuhan. Ketuhanan ini bisa difahami sebagai ketuhanan Islam, karena pengakuannya bahwa Allah swt adalah Tuhan.
3.         Dalil Inderawi
Bukti inderawi tentang wujud Allah swt dapat di jelaskan melalui dua fenomena:
a.       Fenomena pengabulan do’a
Kita dapat mendengar dan menyaksikan  terkabulnya do’a orang-orang yan berdo’a serta memohon pertolongan –Nya yang di berikan kepada orang-orang yang mendapat musibah. Hal ini menunjukan pasti tentang wujud Allah swt. Allah berfirman;
“Dan (ingatlah kisah Nuh), sebelum itu ketika dia berdoa, dan kami memperkenankan do’anya,lalu kita selamatkan dia beserta keluarga dari bencana yang besar.”(Al Anbiya:76).
Anas bin Malik Ra berkata,”Pernah ada seorang badui datang pada hari jum’at. Pada waktu nabi saw tengah berkotbah. Lelaki itu berkata “Hai Rasul Allah, harta benda kami telah habis, seluruh warga telah kelaparan. Oleh karena itu memohonkanlah kepada Allah swt untuk mengatasi kesulitan kami.” Rosulullah itu mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Dan Tiba-tiba awan mendung bertebaran bagaikan gunung-gunung. Rosulullah  belum turun dari mimbar, hujan turun membasahi jenggotnya. Pada jum’at yang kedua, orang badui atau orang lain berdiri dan berkata,”Hai Rosul Allah, bangunan kami hancur dan harta bendapun tenggelam, doakanlah akan kami ini (agar selamat) kepada Allah.”Rasulullah lalu mengangkat kedua tangan nya, seraya berdoa:’Ya Robbku,turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami.”Akhirnya beliau tidak mengisyaratkan pada suatu tempat kecuali menjadi terang (tanpa hujan).

4.         Dalil Naqli
Dalil Naqli adalah dalil pembuktian akan keberadaan dengan merujuk petunjuk kitab suci. Dengan fitrah manusia bisa mengakui adanya tuhan, dan dengan akal pikiran juga manusia bisa membuktikannya, namun manusia perlu memerlukan dalil naqli (Alqur’an dan Sunnah) untuk membimbing manusia kejalan yang sesungguhnya. Dengan segala asma dan sifatnya, sebab akal dan fitrah tidak bisa menjelaskan siapa tuhan yang sebenarnya itu.
Cukup banyak pembahasan tentang Allah swt dalam Alqur’an dan sunnah, hanya saja di sini dikemukakan point tentingnya saja, yaitu:
b.      Allah adalah Al-Awwal, yaitu tidak ada permulaan bagi wujud-Nya, dan jugaAl-Akhir, yaitu tidak ada akhir dari wujudnya:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya:” Dialah yang awal dan yang Akhir, yang zdohir dan yang batin, dan dia yang mengetahui segala sesuatu.(Qs: Al-Hadid(57)3).
c.       Tidak ada satupun yang menyerupainya
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya:”Tidak ada satupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang maha mendengar lagi maha melihat.(Qs: Assyura(42)11).
5.         Bukti Rasional
Bukti dan petunjuk yang menunjukan keberadaan Allah adalah petunjuk rasional. Hal ini dapat di buktikan dengan teori sebab-akibat (kuasatitas). Teori itu mengatakan bahwa segala apapun yang terjadi pasti ada penyebabnya. Ia adalah sesuatu yang keberadaan nya bukan di sebabkan oleh sesuatu yang lain. Zat yang seperti itulah, Tuhan dalam akidah islam. Dan Dia-lah Allah yang Maha Esa, yang berdiri sendiri, tidak bergantung kepada apa dan siapa pu, tidak beranak dan pila di peranakkan. Keyakinan bahwa tuhan bersifat demikian, di kukuhkan oleh kitab suci,
Katakanlah ,”Dia-lah Allah, yang Maha Esa, Allah adalah tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula di peranakan, dan tidak ada seseorang pun yang setara dengan Dia.”(Al-Ikhlas[112]:1-4).
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kita bisa mengambil kesimpulan materi diatas, bahwa dalam mengenal Allah, kita di tuntut menjadi seorang yang beramal sholeh. Allah sangat menyayangi hambanya yang senantiasa selalu mengingat-Nya, Allah menjanjikan surga, keridhoan, keberkahan, kemerekaan serta kemulyaan di dalam hidup kita.
Mengenal Allah yang benar adalah dengan menimbulkan rasa malu, cinta dan rasa takut kepada-Nya. Yang disebut malu karena merasa membawa beban dosa. Cinta yaitu rindu untuk menghadap Allah dan senang memperoleh pahala-Nya. Dan takut kepada Allah adalah takut terkena siksa-Nya. Jika hal tersebut telah timbul di dalam hati kita. Insya Allah kita telah mampu mengenal Allah dengan cinta.
Untuk itu sebelum kita mengenal Allah alangkah baiknya kalau kita membersihkan hati kita dari berbagai penyakit, yang membuat hati kita menjadi petang atau gelap. Hanya dengan cara itulah kita bisa mengerti apa rahasia-rahasia yang selama ini tidak kita ketahui.


Daftar Pustaka
Ali Muakhir,2008,Mengenal Allah,PT Tiga Serangkai.
Gazalba,sidi,1972,Ilmu Islam l.Bulan Bintang.
Jasiman, Lc.2002,Mengenal dan Memahami Islam,PT Era Adicitra Intermedia.
Sabiq, Sayid.2002. Aqidah Islam.Bandung:Penerbit Diponorogo.